DUA PULUH TATA KRAMA DZIKIR

( Diambil Dari Kitab Al Khulashotul Wafiyah, Fil Adabi Wa Kayfiyatidz Dzikri,

‘Indassadatil Qodiriyah Wannaqsabandiyah

Oleh ; Muhammad Utsman bin Nady Al Ishaqy )

Para ulama ahli ma’rifat ra. Telah bersepakat bahwasanya orang yang tidak melaksanakan tata krama dzikir yang berjumlah dua puluh maka sama sekali tidak akan terbuka hatinya (futuh).

Adapun tata krama dzikir tersebut lima dilakukan sebelum dzikir, dua belas ketika berdzikir serta tiga dilaksanakan setelah berdzikir.

LIMA TATA KRAMA SEBELUM DZIKIR ADALAH:

1. Harus bertaubat dari perkataan, perbuatan, atau kemauan yang tidak ada gunanya.

2. Bersuci dari hadast besar atau kecil dengan berwudlu atau mandi dengan sempurna.

3. Tenang, konsentrasi supaya berhasil dalam berdzikir.

4. Memohon pertolongan ketika melaksanakan dzikir kepada Himmahh (semangat, kemauan) guru.

5. Berkeyakinan bahwa sesungguhnya mendapatkan pertolongan dari guru tersebut pada kenyataannya adalah mendapatkan pertolongan dari Nabi Muhammad saw.

DUA BELAS TATA KRAMA KETIKA MELAKSANAKAN DZIKIR ADALAH:

1. Duduk diatas tempat duduk yang suci, seperti duduk ketika sholat.

2. Meletakan dua telapak tangan pada dua lutut, menghadap ke kiblat bila berdzikir sendirian, sedangkan ketika berjama’ah dengan orang banyak saling menghadap (Jawa: kupengan)

3. Tempat dan pakaian yang digunakan berdzikir harus berbau harum.

4. Memakai pakaian yang halal dan suci.

5. Kalau bisa, harus memilih tempat yang gelap.

6. Memejamkan kedua mata, agar supaya tertutup beberapa saluran panca indra yang tampak.

7. Membayangkan wajah sang guru.

8. Benar didalam dzikir, artinya tidak pamer dan tidak ujub (angkuh).

9. Ihlas, yakni bersihnya amal dari sikap “riya”, sesungguhnya dzikir disertasi keikhlasan dari orang yang berdzikir tersebut akan sampai kepada derajat atau tingkatan “shiddiqiyn”, dengan syarat tidak menyembunyikan apapun yang terlintas di dalam hati seorang murid, dipuji atau dicela semua diserahkan kepada guru, sebab dengan menyembunyikan rasa tidak menerimakan apa yang dikatakan guru menyebabkan timbulnya sikap pengingkaran dan tertutup dari futuh.

10. Tidak menentukan shighot kalimat dzikir dengan kalimatnya sendiri, akan tetapi harus memakai shighot kalimat yang diajarkan oleh guru.

11. Menghadirkan makna dzikir di dalam hati, sesuai tingkatan masing-masing dalam hal musyaahhadahh (penyaksian terhadap Allah), dengan syarat selalu memberitahukan kepada guru tiap naiknya tingkatan yang dirasakan, sehingga oleh guru diajarkan tentang tata krama sesuai tingkatan masing-masing.

12. Menyingkirkan segala sesuatu yang wujud dan nampak dari hati selain hanya kepada Allah yang ada di hati orang yang berdzikir dengan ucapan (لا ا له الا الله) “Laa ilaaHha il-lal-looHh”

( PENTING )

Adapun para ulama mensyaratkan harus menyingkirkan segala yang berwujud, selain AllaHh ta’aalaa dari hati tersebut adalah agar supaya bekas dan pengaruh kalimat (لا ا له الا الله) ”Laa ilaaHha il-lal-looHh” tetap di dalam hati, kemudian menjalar ke seluruh tubuh.

Para ulama juga sepakat wajib seorang murid berdzikir dengan segenap kekuatan, kemantapan dan tetap berhati-hati.

SEDANGKAN TIGA TATA KRAMA YANG DILAKUKAN SETELAH SELESAI MELAKSANAKAN DZIKIR ADALAH:

1. Diam sejenak, tenang, tunduk merenung dalam hati, merasakan hadirnya dzikir yang membekas dalam hati.

2. Bernafas dengan mantap dan berulang-ulang, tiga kali nafas hingga tujuh kali nafas keluar masuk.

3. Tidak langsung minum begitu selesai dzikir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: