KH. Ghufron Achid

AL MAGHFURLAH KH GHUFRON ACHID
PENDIDIK DAN ULAMA YANG SABAR

Pengantar :
KH. Ghufron Achid adalah sederetan nama ulama Kota Pekalongan yang pernah menghiasi dan mewarnai khasanah organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama di Kota Pekalongan yang telah meninggalkan banyak kenangan. Tidak saja di kalangan dunia pendidikan salaf, akan tetapi juga dalam kiprahnya menata organisasi peninggalan Hadratus Syech KH. Mohammad Hasyim Asy’ari sehingga Nahdlatul Ulama Kota Pekalongan tetap eksis seperti sekarang.

Berikut ini adalah tulisan singkat sengaja redaksi hadirkan bukan untuk mengkultus-individukan beliau, tetapi untuk mengenang kesholehan beliau, mengenang perilaku baik beliau, pengabdian beliau untuk Allah SWT, dan masyarakat, perjuangan beliau yang kadang – kadang harus menentang arus, menerjang ombak, tantangan dan rintangan yang tidak ringan. Rasulullah SAW bersabda : “ Sebutkan kebaikan Orang – Orang yang telah mati dari kamu, dan berhentilah mencela keburukan – keburukan mereka “

Masa kecil

KH Ghufron Achid dilahirkan pada hari kamis pahing tanggal 15 Syawal 1349 H /tanggal 5 Maret 1931 dari pasangan Bapak Achid dan Ibu Arifah di Kauman Pekalongan. Dan pada hari Rabu Wage tanggal 7 Pebruari 2001 M  / 13 Dzul Qo’dah 1421 H, KH. Ghufron Achid dipanggil Allah SWT pada usia 69 tahun 11 bulan 2 hari (Miladiyah) dengan meninggalkan Putra/Putri dan menantu :

1.Hj Aminah + KH Azizuddin Muzajjad
2.Khairiyah + Miftakhuz Zuhri
3.Dhofiroh + H Zainudin ( Payaman )
4.Sa’duddin + Inayah
5.Labib + Novita
6.Ishmah + K Jamil
7.Kamilah + Slamet Rahmat
8.Akhiroh
9.Mismakhah al Khafidhoh
10.Muhammad
11.Hamid

Penyabar tapi penuh semangat

Ayah Kiyai Ghufron yaitu Bapak Achid meninggal karena kekejaman Belanda, sehingga pada waktu kecil Kiyai Ghuforn dan Saudara – Saudaranya dalam keadaan yatim / miskin. Untuk menunjang kehidupan rumah tangga, beliau pernah berjualan  ‘IDER ROKOK’  dan ‘BURUH NGUWUK BATIK’ meskipun umurnya masih relatif kecil / muda.

Pada masa mudanya, waktunya dihabiskan untuk mencari ilmu, bukan untuk berfoya – foya seperti layaknya anak muda yang lain. Untuk membekali diri, pada waktu kecilnya pernah mengaji pada Ust Baidlowi Kauman, selanjutnya menuntut ilmu pada para Ulama di berbagai Pondok Pesantren antara lain KH Ma’shum, Al Hidayah Lasem selama 6 tahun, KH Masduki Ponpes Al Ishlah. Kemudian ke beberapa kiayi yang lain seperti KH Baidlowi, KH Maftukhin, KH Cholil, KH Fatkhur Rohman, KH Manshur, KH Muhammadun, selanjutnya KH Arwani dan KH Muhammad Hambali Sumardi.

Untuk memperdalam ilmu agama yang telah diperoleh selama nyantri, Kiyai Ghufron  juga bertabarruk kepada mbah kyai Ahmad Asy’ari Poncol Salatiga, meskipun waktu itu sudah berkeluarga. Dan bai’at thariqah An Naqsyabandiyah Al Khalidiyah.

Setelah dirasa cukup menimba ilmu, Kiyai Ghufron menikah dengan Aisyah putri dari KH Mudzakir bin KH Fadholi, adik kandung dari KH Ibnu Chadjar Mudzakir. Dari perkawinannya dianugerahi Putera ( anak ), tercatat yang masih hidup, 4 orang laki-laki dan 7 orang perempuan.

Waro’, qona’ah dan gigih

Untuk mengamalkan ilmu yang telah diraihnya, oleh mertuanya Kiyai Ghufron diserahi mengajar dan memimpin Madrasah Salafiyah Ibtidaiyah (MSI) yang didirikan oleh Ayah Mertua beliau KH Mudzakir Fadholi bersama Pengurus Salafiyah yang lain. Tugas itu dapat dilaksanakan dengan baik dan penuh tanggungjawab meskipun dengan imbalan honor / gaji yang sangat – sangat sedikit dan sangat kurang untuk menopang kehidupan beliau.

Dari MSI yang berlokasi di Kauman Pekalongan dengan 6 ( enam ) lokal kecil pada awalnya, dan selanjutnya berkat kegigihan Kiyai Ghufron dan para Pengurus Yayasan SALAFIYAH Kauman Pekalongan, sekolah itu berkembang pesat dalam waktu yang tidak lama, dan pada saat ini telah berdiri lima lembaga pendidikan Islam di bawah naungan Nahdlatul Ulama, yakni MSI 01 Kauman, MSI 02 Keputran, MSI 05 Sampangan, SMP Salafiyah Kauman dan MA Salafiyah.

Pernah terjadi suatu hari beliau berkunjung ke rumah Wali Murid untuk berkonsultasi tentang anaknya, tiba – tiba beliau dilempar batu dari belakang oleh muridnya, sehingga orang tua murid tadi sangat malu dan memohon maaf kepada beliau, hal ini beliau hadapi dengan sabar dan tidak mempermasalahkan.

Seorang yang Alim Al Allamah

Setelah ayah mertuanya yakni  KH Mudzakir meninggal pada tahun 1975, di samping beliau memimpin sekolah, Kiyai Ghufron mendapat tugas tambahan melanjutkan pengajian yang pernah dilaksanakan mertua yaitu pengajian kitab Ihya’ ‘Ulumuddin dan berhasil mengkhatamkan 4 ( empat ) jilid, dan kitab Shokhih Bukhori. Serta beberapa kitab lain yang diajarkan kepada santri-santrinya.

Kiyai Ghufron adalah sosok yang tidak pernah bias berdiam diri. Di sela-sela kesibukannya mengelola pendidikan dan mengajar santri-santri yang mengaji kepadanya, Kiyai Ghufron juga aktif di berbagai kegiatan organisasi sosial keagamaan seperti di Nahdlatul Ulama Kota Pekalongan dengan beberapa periode menjadi Rois Syuriyah. Kemudian di MUI Kota Pekalongan pernah menjadi Ketua Umum satu periode, di Yayasan SALAFIYAH Kauman Pekalongan menjadi Ketua I, dan menjadi salah satu pengurus Yayasan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang membawahi SLTP Wahid Hasyim dan SMU Hasyim Asy’ari, serta menjadi Ketua Yayasan Khirzaddin yang didirikan oleh Bpk H Kamaludin Bachir.

Di masa hidupnya juga pernah menjadi pengurus serta aktifis “Majlis Musyawarah Diniyah”  Pekalongan yang didirikan oleh Al Marhum Bpk H Junaid dan yang pernah ikut membidani kelahiran Koperasi Pemuda Buana (KOPENA) dan mensupport gerakannya, dibuktikan dengan kesediaan beliau menjadi anggota Koperasi tersebut.  Dan aktif sebagai Penasehat di KBIH AS SALAMAH Kota Pekalongan.

Kesibukan lainnya ialah memberikan pemikiran santunan kepada fuqara masakin / ekonomi lemah, dengan memprakarsai berdirinya Badan Amil Zakat ( BAZ ) di Kota Pekalongan dan menjadi  salah seorang Pengurus.

Beberapa aktifitas lain yang pernah dilakukan antara lain pernah mengadakan penyelidikan secara pribadi bersama – sama pengurus MUI yang lain tentang proses pemotongan hewan di lokasi pemotongan hewan  ( blandong ), apakah proses pemotongan hewan itu sudah sesuai dengan syari’at Islam.

Kemudian mengadakan penelitian secara pribadi bersama – sama pengurus MUI yang lain ke tempat – tempat praktek SMOKE COUTHING ( dindong ), dan hasilnya MUI memberikan fatwa permainan dindong termasuk perjudian dan mengajukan permohonan kepada Walikota Pekalongan agar permainan itu dilarang. Akhirnya rekomendasi itu diperhatikan Walikota dengan melarang dan menutup permainan dindong. Pernah juga Kiyai Ghufron bersama pengurus MUI lainnya dan didukung oleh Ormas – Ormas Islam serta Pondok Pesantren se Kota Pekalongan mengajukan usulan kepada Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat agar Gedung Pemuda yang mempunyai sejarah heroik / kepahlawanan Orang – Orang Pekalongan dijadikan Masjid meski harus berhadapan dengan dengan DPRD, Walikota dan Kejaksaan serta Orang – orang yang menentang waktu itu. Apalagi pemerintah pada waktu itu sangat berkuasa, hal tersebut terasa merupakan hal yang sangat mustahil, tetapi Allah SWT Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sesuatu yang kelihatannya tak mungkin terjadi, bisa saja terjadi atas ijin-Nya.

Akhirnya terjadilah Reformasi di Indonesia, dan atas desakan para pemuda dan seluruh lapisan masyarakat, serta bantuan jasa dari Walikota Pekalongan bersama tokoh – tokoh lain, sekarang telah berdiri dengan megah sebuah masjid dengan nama MASJID AS SYUHADA’ sebagai monumen perjuangan para pahlawan / syuhada Pekalongan mempertahankan kemerdekaan NKRI pada tanggal 3 Oktober 1945.

Inilah sekelumit catatan tentang Kiyai Ghufron Achid. Masih banyak lagi prilaku baik yang belum tercatat, dan masih banyak lagi mahasin, Fadhilah dan maziyyah   beliau yang belum terungkap.

Kini KH. Ghufron Achid telah tiada, dan telah meninggalkan kita semua, kewajiban kita bukan untuk bersedih berkepanjangan yang tak berujung. Tetapi yang penting Akhlaqul Karimah, perilaku baik, kesabaran, kesholehan, kegigihan, kejelian, ketelitian, ketaqwaan dan perjuangan beliau patutlah kita teladani dan kita teruskan perjuangan beliau untuk Islam, bangsa dan negara. (dikutip dari sejarah singkat KH. Ghufron Achid)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: